ZAENAL ARIFIN'S BLOG
Jumat, 01 November 2013
Filsafat Herakleitos dan Filsafat Parmenides
Filsafat Herakleitos dan Filsafat Parmenides
Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat, kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh Herakleitos dan Parmenides adalah tonggak pertama dari perkembangan aliran-aliran filsafat.
1. Herakleitos (540 - 480 SM)
Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di alam ini yang bersifat tetap atau permanen. Apa yang kelihatan tetap, sebenarnya adalah dalam proses perubahan. Jadi, yang menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan ‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan ‘filsafat menjadi’ (to become), realitas sesungguhnya adalah mengalami perubahan. Dari pendapatnya itu, dapat ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu.
Segala sesuatu yang terus berubah di alam semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya logos. Pandangan tentang logos di sini tidak boleh disamakan begitu saja dengan konsep logos pada mazhab Stoa. Logos adalah rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia. Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang material, namun sekaligus melampaui materi yang biasa. Hal ini disebabkan pada masa itu, belum ada filsuf yang mampu memisahkan antara yang rohani dan yang materi
2. Parmenides (540 - 575 SM)
Parmenides terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah alias tetap”. Dasar pemikirannya adalah yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami.
Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu, maka tidak mungkin terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.
Sumber:
dewianggraini7789.blogspot.com/2012/09/aliran-filsafat-dan-perkembangannya.html
Sabtu, 19 Oktober 2013
Refleksi ke-3 (11 Oktober 2013)
Bahasa Analog adalah Bahasa Filsafat
Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang?
Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi formal, dimensi material, dimensi normatif, atau spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog: nama saya “Zaenal Arifin”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tersebut mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama Zaenal Arifin. Mungkin karena orang tuanya ingin menginginkan dia (anaknya) menjadi pemimpin yang bijaksana yang mempunyai banyak perhiasan. Kata Zaenal Arifin berasal dari bahasa arab. Zaenal berasal dari kata zain yang berarti perhiasan, sedangkan kata arifin bermakna bijaksana. Itulah contoh bahasa analog yang digunakan dalam mempelajari filsafat. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog.
Adalagi contoh bahasa analog yang ditulis oleh pak Prof. Marsigit dalam postingnya elegy menggapai dasar gunung es sebagai berikut:
Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?
Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.
Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.
Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.
Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.
Contoh diatas juga memakai bahasa analog. Maksud pelaut disana bukan orang yang sedang berlayar dilaut, namun maksudnya adalah orang yang sedang mencari ilmu. Dan orang tua yang berambut putih itu bukan kakek-kakek, melainkan adalah ilmu/logos. Disana diceritakan bahwa orang yang sedang mencari ilmu sedang bimbang/kebingungan, bagaimana caranya dia mendapatkan ilmu. Dari kebingungan itulah dia berpikir dan datanglah ilmu dari kebingungan itu. Ilmu itu memberikan cara bahwa untuk mempelajari ilmu harus belajar dari dasar-dasarnya dulu sebelum ia mempelajari lebih dalam. Kalau kita ingin belajar matematika, jangan langsung belajar tentang bangun ruang, himpunan, pecahan, atau induksi matematika tapi belajar dulu tentang operasi bilangan dulu; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang dijelaskan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Jumat, 27 September 2013
Pertanyaan Seputar Filsafat
1. Mengapa manusia berfilsafat?
Pertanyaan ini sama saja dengan “mengapa manusia berpikir”. Dalam kuliah filsafat, kita bisa bereksperimen. Laboratoriumnya ada dimanapun dan setiap saat. Andaikata kita bereksperimen, manusia hanya memiliki perasaan tapi tidak memliki pikiran saja, maka kemungkinan manusia hanya bisa melakukan dua hal yaitu terus bercinta dan terus berperang. Ketika peresaannya damai maka manusia bercinta, namun jika perasaannya sedang kacau maka manusia berperang. Sebaliknya, sebagai contoh manusia yang membuat film alien maka kita bereksperimen bahwa manusia hanya memiliki pikiran saja, tidak memliki perasaan. Karena dalam film tersebut penuh dengan pikiran; teknologi macam-macam, senjata, alien yang menguasai dunia dan lainnya.
2. Apa landasan pertama bagi para filsuf?
Landasan pertama para filsuf adalah rasa ingin tahu, karena ingin merubah mitos menjadi logos.
3. Filsafat apa yang paling pertama?
Filsafat alam merupakan filsafat yang pertama muncul dan objeknya adalah benda-benda alam, benda-benda disekitar kita.
4. Berakhir dimana filsafat itu?
Filsafat itu harus berhenti didepan spiritual, harus berhenti di area spiritual. Artinya, ada saatnya ketika manusia akan berdo’a, maka mereka harus menghentikan pikirannya itu.
5. Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang?
Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi bisnis, dimensi petani, dimensi material, dimensi spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog “nama saya Tomy”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tadi mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama tomy. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog.
6. Bagaimana filsafat bersinergi dengan kehidupan?
Fisafat sendiri itu hidup, jadi ketika masih ada kehidupan maka disitulah filsafat ada.
7. Apakah ada tingkatan-tingkatan dalam berfilsafat?
Jawabannya ada. Seperti nilai, si A dapat nilai 10, si B dapat nilai 8, si C dapat nilai 7, itukan bertingkat-tingkatkan. Tingkatan-tingkatan bergantung kepada pikirannya bertingkat, metodenya bertingkat, dan objeknya bertingkat.
8. Bagaimana pandangan fisafat mengenai alam akhirat?
Antara dunia nyata ini dengan akhirat semuanya objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang terbenak dalam hati manusia pasti ada.
9. Apakah filsafat mempunyai rumus?
Ya, yaitu punya tiga pilar: ontologi (hakekat), epistimologi (pendekatan) dan aksiologi (kebaikan). Itu adalah rumus filsafat. Di dunia ini mempunyai 2 hukum, yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi (kalau tidak identitas).
10. Kapan orang bisa berfilsafat?
Kapan saja.
Pertanyaan ini sama saja dengan “mengapa manusia berpikir”. Dalam kuliah filsafat, kita bisa bereksperimen. Laboratoriumnya ada dimanapun dan setiap saat. Andaikata kita bereksperimen, manusia hanya memiliki perasaan tapi tidak memliki pikiran saja, maka kemungkinan manusia hanya bisa melakukan dua hal yaitu terus bercinta dan terus berperang. Ketika peresaannya damai maka manusia bercinta, namun jika perasaannya sedang kacau maka manusia berperang. Sebaliknya, sebagai contoh manusia yang membuat film alien maka kita bereksperimen bahwa manusia hanya memiliki pikiran saja, tidak memliki perasaan. Karena dalam film tersebut penuh dengan pikiran; teknologi macam-macam, senjata, alien yang menguasai dunia dan lainnya.
2. Apa landasan pertama bagi para filsuf?
Landasan pertama para filsuf adalah rasa ingin tahu, karena ingin merubah mitos menjadi logos.
3. Filsafat apa yang paling pertama?
Filsafat alam merupakan filsafat yang pertama muncul dan objeknya adalah benda-benda alam, benda-benda disekitar kita.
4. Berakhir dimana filsafat itu?
Filsafat itu harus berhenti didepan spiritual, harus berhenti di area spiritual. Artinya, ada saatnya ketika manusia akan berdo’a, maka mereka harus menghentikan pikirannya itu.
5. Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang?
Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi bisnis, dimensi petani, dimensi material, dimensi spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog “nama saya Tomy”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tadi mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama tomy. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog.
6. Bagaimana filsafat bersinergi dengan kehidupan?
Fisafat sendiri itu hidup, jadi ketika masih ada kehidupan maka disitulah filsafat ada.
7. Apakah ada tingkatan-tingkatan dalam berfilsafat?
Jawabannya ada. Seperti nilai, si A dapat nilai 10, si B dapat nilai 8, si C dapat nilai 7, itukan bertingkat-tingkatkan. Tingkatan-tingkatan bergantung kepada pikirannya bertingkat, metodenya bertingkat, dan objeknya bertingkat.
8. Bagaimana pandangan fisafat mengenai alam akhirat?
Antara dunia nyata ini dengan akhirat semuanya objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang terbenak dalam hati manusia pasti ada.
9. Apakah filsafat mempunyai rumus?
Ya, yaitu punya tiga pilar: ontologi (hakekat), epistimologi (pendekatan) dan aksiologi (kebaikan). Itu adalah rumus filsafat. Di dunia ini mempunyai 2 hukum, yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi (kalau tidak identitas).
10. Kapan orang bisa berfilsafat?
Kapan saja.
Minggu, 08 September 2013
Deduktivisme
Deduktivisme merupakan lawan dari induktivisme. Deduktivisme yaitu
sebuah pemikiran yang diawali oleh pernyataan umum lalu
dikembangkan/diperjelas oleh pernyataan-pernyataan khusus. Pemikiran ini
bisa bisa berupa buku, penelitian/tesis, artikel, diskusi atau
semacamnya.
Langkah-langkah dalam penelitian yang menggunakan deduktivisme sebagai berikut:
1. Mendapati permasalahan
2. Membuat hipotesis (dugaan/jawaban sementara) ==> umum
3. Mencari data-data yang mendukung hipotesis ==> khusus
4. Melakukan uji coba/eksperimen (mengolah data-data yang didapat)
5. Menyimpulkan, apakah hipotesis nya benar atau tidak.
Langkah-langkah dalam penelitian yang menggunakan deduktivisme sebagai berikut:
1. Mendapati permasalahan
2. Membuat hipotesis (dugaan/jawaban sementara) ==> umum
3. Mencari data-data yang mendukung hipotesis ==> khusus
4. Melakukan uji coba/eksperimen (mengolah data-data yang didapat)
5. Menyimpulkan, apakah hipotesis nya benar atau tidak.
Strukturalisme
Strukturalisme merupakan suatu aliran/gerakan filsafat yang menyatakan
bahwa masyarakat dan kebudayaannya mempunyai struktur yang sama.
Strukturalisme mengkaji pikiran/ide yang dikeluarkan manusia;
adat-istiadat, bahasa, simbol-simbol, gagasan, tanda-tanda, itu semua
sudah terstruktur. Intinya segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia
(kebudayaan) adalah kajian dari strukturalisme.
Hermeneutik
Hermeneutik merupakan sebuah metode/teori/ilmu yang berkaitan dengan interpretasi/terjemahan/penafsiran. Ilmu hermeneutik tidak hanya menafsirkan apa yang ada di buku teks (menafsirkan sebuah kitab misalnya) namun juga menafsirkan yang non-teks seperti mempelajari dibalik segala fenomena yang terjadi di alam semesta ini, hakikat terjadinya seperti apa, apa yang bisa dipahami dari fenomena itu, bagaimana cara untuk memahaminya, bagaimana pemahaman itu bisa terwujud, dan lainnya.
Nomena
Nomena merupakan lawan dari fenomena. Kalau fenomena adalah segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera sedangkan nomena adalah segala sesuatu yang tidak dapat dirasakan oleh panca indera. Dalam nomena, segala sesuatu itu ada, tapi tidak bisa dijelaskan oleh panca indera, bentuk/wujudnya seperti, rasanya bagaimana, yang jelas tidak bisa dilihat, dirasa, dicium, atau dibicarakan. Walaupun ada, tapi ia ada diluar batas pengetahuan kita/kita hanya meyakini keberadaannya saja. Membayangkannya saja kita tidak bisa. Misalnya surga, kita hanya tahu surga itu ada, namun surga itu tidak dapat kita rasakan, untuk membayangkannya saja kita tidak tahu. Kita tidak diberikan pengetahuan yang lebih mengenai nemona itu, hanya sekedar tahu saja bahwa itu ada.
Langganan:
Postingan (Atom)