Jumat, 01 November 2013

Filsafat Herakleitos dan Filsafat Parmenides

Filsafat Herakleitos dan Filsafat Parmenides Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat, kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh Herakleitos dan Parmenides adalah tonggak pertama dari perkembangan aliran-aliran filsafat. 1. Herakleitos (540 - 480 SM) Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di alam ini yang bersifat tetap atau permanen. Apa yang kelihatan tetap, sebenarnya adalah dalam proses perubahan. Jadi, yang menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan ‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan ‘filsafat menjadi’ (to become), realitas sesungguhnya adalah mengalami perubahan. Dari pendapatnya itu, dapat ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu. Segala sesuatu yang terus berubah di alam semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya logos. Pandangan tentang logos di sini tidak boleh disamakan begitu saja dengan konsep logos pada mazhab Stoa. Logos adalah rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia. Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang material, namun sekaligus melampaui materi yang biasa. Hal ini disebabkan pada masa itu, belum ada filsuf yang mampu memisahkan antara yang rohani dan yang materi 2. Parmenides (540 - 575 SM) Parmenides terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah alias tetap”. Dasar pemikirannya adalah yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami. Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu, maka tidak mungkin terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap. Sumber: dewianggraini7789.blogspot.com/2012/09/aliran-filsafat-dan-perkembangannya.html

Sabtu, 19 Oktober 2013

Refleksi ke-3 (11 Oktober 2013)

Bahasa Analog adalah Bahasa Filsafat Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang? Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi formal, dimensi material, dimensi normatif, atau spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog: nama saya “Zaenal Arifin”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tersebut mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama Zaenal Arifin. Mungkin karena orang tuanya ingin menginginkan dia (anaknya) menjadi pemimpin yang bijaksana yang mempunyai banyak perhiasan. Kata Zaenal Arifin berasal dari bahasa arab. Zaenal berasal dari kata zain yang berarti perhiasan, sedangkan kata arifin bermakna bijaksana. Itulah contoh bahasa analog yang digunakan dalam mempelajari filsafat. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog. Adalagi contoh bahasa analog yang ditulis oleh pak Prof. Marsigit dalam postingnya elegy menggapai dasar gunung es sebagai berikut: Pelaut: Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua? Orang tua berambut putih datang: Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu. Pelaut: Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja. Orang tua berambut putih: Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu. Pelaut: Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es? Orang tua berambut putih: Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es. Contoh diatas juga memakai bahasa analog. Maksud pelaut disana bukan orang yang sedang berlayar dilaut, namun maksudnya adalah orang yang sedang mencari ilmu. Dan orang tua yang berambut putih itu bukan kakek-kakek, melainkan adalah ilmu/logos. Disana diceritakan bahwa orang yang sedang mencari ilmu sedang bimbang/kebingungan, bagaimana caranya dia mendapatkan ilmu. Dari kebingungan itulah dia berpikir dan datanglah ilmu dari kebingungan itu. Ilmu itu memberikan cara bahwa untuk mempelajari ilmu harus belajar dari dasar-dasarnya dulu sebelum ia mempelajari lebih dalam. Kalau kita ingin belajar matematika, jangan langsung belajar tentang bangun ruang, himpunan, pecahan, atau induksi matematika tapi belajar dulu tentang operasi bilangan dulu; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang dijelaskan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 27 September 2013

Pertanyaan Seputar Filsafat

1.    Mengapa manusia berfilsafat?
Pertanyaan ini sama saja dengan “mengapa manusia berpikir”. Dalam kuliah filsafat, kita bisa bereksperimen. Laboratoriumnya ada dimanapun dan setiap saat. Andaikata kita bereksperimen, manusia hanya memiliki perasaan tapi tidak memliki pikiran saja, maka kemungkinan manusia hanya bisa melakukan dua hal yaitu terus bercinta dan terus berperang. Ketika peresaannya damai maka manusia bercinta, namun jika perasaannya sedang kacau maka manusia berperang. Sebaliknya, sebagai contoh manusia yang membuat film alien maka kita bereksperimen bahwa manusia hanya memiliki pikiran saja, tidak memliki perasaan. Karena dalam film tersebut penuh dengan pikiran; teknologi macam-macam, senjata, alien yang menguasai dunia dan lainnya.
2.    Apa landasan pertama bagi para filsuf?
Landasan pertama para filsuf adalah rasa ingin tahu, karena ingin merubah mitos menjadi logos.
3.    Filsafat apa yang paling pertama?
Filsafat alam merupakan filsafat yang pertama muncul dan objeknya adalah benda-benda alam, benda-benda disekitar kita.
4.    Berakhir dimana filsafat itu?
Filsafat itu harus berhenti didepan spiritual, harus berhenti di area spiritual. Artinya, ada saatnya ketika manusia akan berdo’a, maka mereka harus menghentikan pikirannya itu.
5.    Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang?
Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi bisnis, dimensi petani, dimensi material, dimensi spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog “nama saya Tomy”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tadi mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama tomy. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog.
6.    Bagaimana filsafat bersinergi dengan kehidupan?
Fisafat sendiri itu hidup, jadi ketika masih ada kehidupan maka disitulah filsafat ada.
7.    Apakah ada tingkatan-tingkatan dalam berfilsafat?
Jawabannya ada. Seperti nilai, si A dapat nilai 10, si B dapat nilai 8, si C dapat nilai 7, itukan bertingkat-tingkatkan. Tingkatan-tingkatan bergantung kepada pikirannya bertingkat, metodenya bertingkat, dan objeknya bertingkat.
8.    Bagaimana pandangan fisafat mengenai alam akhirat?
Antara dunia nyata ini dengan akhirat semuanya objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang terbenak dalam hati manusia pasti ada.
9.    Apakah filsafat mempunyai rumus?
Ya, yaitu punya tiga pilar: ontologi (hakekat), epistimologi (pendekatan) dan aksiologi (kebaikan). Itu adalah rumus filsafat. Di dunia ini mempunyai 2 hukum, yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi (kalau tidak identitas).
10.    Kapan orang bisa berfilsafat?
Kapan saja.

Minggu, 08 September 2013

Deduktivisme

Deduktivisme merupakan lawan dari induktivisme. Deduktivisme yaitu sebuah pemikiran yang diawali oleh pernyataan umum lalu dikembangkan/diperjelas oleh pernyataan-pernyataan khusus. Pemikiran ini bisa bisa berupa buku, penelitian/tesis, artikel, diskusi atau semacamnya.
Langkah-langkah dalam penelitian yang menggunakan deduktivisme sebagai berikut:
1. Mendapati permasalahan
2. Membuat hipotesis (dugaan/jawaban sementara) ==> umum
3. Mencari data-data yang mendukung hipotesis ==> khusus
4. Melakukan uji coba/eksperimen (mengolah data-data yang didapat)
5. Menyimpulkan, apakah hipotesis nya benar atau tidak.

Strukturalisme

Strukturalisme merupakan suatu aliran/gerakan filsafat yang menyatakan bahwa masyarakat dan kebudayaannya mempunyai struktur yang sama. Strukturalisme mengkaji pikiran/ide yang dikeluarkan manusia; adat-istiadat, bahasa, simbol-simbol, gagasan, tanda-tanda, itu semua sudah terstruktur. Intinya segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia (kebudayaan) adalah kajian dari strukturalisme.

Hermeneutik

Hermeneutik merupakan sebuah metode/teori/ilmu yang berkaitan dengan interpretasi/terjemahan/penafsiran. Ilmu hermeneutik tidak hanya menafsirkan apa yang ada di buku teks (menafsirkan sebuah kitab misalnya) namun juga menafsirkan yang non-teks seperti mempelajari dibalik segala fenomena yang terjadi di alam semesta ini, hakikat terjadinya seperti apa, apa yang bisa dipahami dari fenomena itu, bagaimana cara untuk memahaminya, bagaimana pemahaman itu bisa terwujud, dan lainnya.

Nomena

Nomena merupakan lawan dari fenomena. Kalau fenomena adalah segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera sedangkan nomena adalah segala sesuatu yang tidak dapat dirasakan oleh panca indera. Dalam nomena, segala sesuatu itu ada, tapi tidak bisa dijelaskan oleh panca indera, bentuk/wujudnya seperti, rasanya bagaimana, yang jelas tidak bisa dilihat, dirasa, dicium, atau dibicarakan. Walaupun ada, tapi ia ada diluar batas pengetahuan kita/kita hanya meyakini keberadaannya saja. Membayangkannya saja kita tidak bisa. Misalnya surga, kita hanya tahu surga itu ada, namun surga itu tidak dapat kita rasakan, untuk membayangkannya saja kita tidak tahu. Kita tidak diberikan pengetahuan yang lebih mengenai nemona itu, hanya sekedar tahu saja bahwa itu ada.

Analitik dan sintetik



Analitik dan sintetik, merupakan dua istilah yang berbeda dalam sebuah perkataan. Perkataan yang tidak membutuhkan pengetahuan dari luar disebut analitik, sedangkan perkataan yang  membutuhkan pengetahuan dari luar disebut sintetik.
Contoh:
Analitik: Guru mengajar murid di sekolah (sudah jelas sebutan guru adalah orang yang mengajar murid di sekolah)
Sintetik: Siswa itu baik (belum tentu, harus dicari tahu apakah betul siswa tersebut baik atau tidak)

Apriori dan Aposteriori

Apriori dan aposteriori, adalah dua istilah pada ilmu filsafat yang membahas dari mana sumber pengetahuan itu, berdasarkan pengalaman atau tidak. Sumber pengetahuan yang tidak berdasarkan pengalaman atau bebas pengalaman disebut apriori, misalnya “umat islam wajib melaksanakan shalat 5 waktu” (disebut apriori karena umat islam tidak mengalami proses diperintahkannya shalat itu dan mengapa hanya 5 waktu, tidak punya pengalaman selain Nabi). Sedangkan sumber pengetahuan yang berdasarkan pengalaman atau perlu pengalaman disebut aposteriori, misalnya “komputer bermerek N harganya 3 juta” (disebut aposteriori karena kita perlu menanyakan kepada toko/penjual berapa harga komputer itu.

Metafisika

Walaupun kita tidak terlalu memahami betul tentang definisi metafisika dalam makna yang sebenar-benarnya, karena dalam mendefinisikan metafisika membutuhkan pemikiran yang khusus dan mendalam namun setidaknya kita tahu apa itu metafisika. Metafisika merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang bagaimana segala sesuatu itu dapat terjadi dan menjadi ada. Para filsuf berbeda pendapat mengenai penyebab terjadinya, ada yang mengatakan sebab terjadinya itu karena terdapat unsur gaib (yang disebut istilah supernaturalisme), sebaliknya ada yang mengatakan bahwa sebab terjadinya itu karena dalam dirinya mempunyai kekuatan untuk melakukannya (yang disebut istilah naturalisme). Kita yang beragama islam tentu tahu mengapa sebab terjadinya, karena semua ini sudah ada yang menciptakan dan mengatur yaitu Allah SWT.

Sabtu, 07 September 2013

Fenomenologi

Fenomenologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang peristiwa/gejala yang terjadi pada alam semesta ini umumnya, dan manusia untuk lebih khususnya, sehingga merupakan sumber ilmu bagi manusia untuk mempelajarinya lebih lanjut. Ilmu tersebut memuat bagaimana terjadinya fenomena itu, mengapa bisa terjadi, sebabnya bagaimana, akibatnya seperti apa, apa hikmah yang terkandung didalamnya dan lainnya. Dalam persefektif agama, manusia yang mempelajari fenomena, burung yang terbang, ikan berenang, kaktus yang tumbuh di padang pasir, pelangi yang muncul tatkala hujan berhenti dan tersinari matahari, manusia yang mampu menjejakkan kakinya di bulan dan lainnya, maka ia akan bertambah kuat akan imannya bahwa semua yang terjadi di alam ini sudah ada yang mengatur dari hal sekecil apapun sampai yang terbesar sekalipun. Subhanallah.

EPOCHE

Epoche adalah suatu keadaan dimana kita hanya terdiam dalam memikirkan sesuatu terhadap benda atau apapun itu atau menunda suatu perbuatan yang akan kita untuk memutuskan/melakukannya padahal perbuatan tersebut menurut kita sudah benar untuk dilakukan. Itu terjadi mungkin karena dalam diri kita masih terdapat keragu-raguan/kebimbangan antara benar atau salah, baik atau buruk, bagus atau tidak terhadap apa yang kita pikirkan itu.

Refleksi Pertemuan 1 MK Filsafat Ilmu


Pertemuan 1
Filsafat ==> tata cara adab sopan santun yang bertujuan agar santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada.
A.    3 pilar filsafat (umum):
1.    Ontology (Hakiki)
2.    Epistemologi (Pendekatan/Cara)
3.    Aksiologi (Kebenaran/Kebaikan)

B.    Metode filsafat yakni Hermenetika/ terjemahan.
C.    Alat filsafat yakni bahasa analog
Dalil-dalil yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Marsigit, MA
“Sehebat-hebat GERAKANMU, engkau tidak akan pernah memenuhi semua TULISANMU”
“Sehebat-hebat TULISANMU, engkau tidak akan pernah memenuhi semua KATA-KATAMU”
“Sehebat-hebat KATA-KATAMU, engkau tidak akan pernah memenuhi semua PIKIRANMU”
“PIKIRANMU ada dalam HATIMU”


Contoh bahasa orang filsuf:
Apodiktif ==> rigor (b. ing) ==> konsisten

Wisdom menurut Al-Quran

Dalam islam, wisdom/hikmah adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki. 
Firman Allah:
 


Artinya: “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Q.S. Al-Baqarah: 269)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memberikan hikmah/wisdom kepada hamba yang dikehendak-Nya. Tentu saja diberikannya kepada orang yang mau menerima hidayah/petunjuk dari Allah SWT karena tidak menutup kemungkinan ada orang yang diberi hidayah tapi ia enggan untuk menerimanya. Hikmah yang diberikan Allah bisa berupa pengetahuan, karena manusia mempunyai satu komponen dalam dirinya untuk berpikir, yaitu akal. Dengan akalnya ia berpikir dan tahu mana yang baik mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil, mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Sehingga dengan itu semua manusia bisa menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jumat, 06 September 2013

RPP Kajian Masalah Pendidikan Matematika

Pertemuan
Kompetensi Dasar
Materi Pokok
KBM
Evaluasi
1
Mahasiswamemahamikawasanmasalahpendidikanmatematika
Permasalahandalampendidikanmatematika
Ekspositoridandiskusi
TJ, TK, dan TI
2
Mahasiswamemahamimasalahperkembangankognitif, sosial, atau mental dalampembelajaranmatematika
Penelitiandalamperkembangankognitif, sosial, atau mental
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
3
Mahasiswamemahamimasalahpembelajaranketerampilan
Penelitiandalammasalahpembelajaranketerampilan
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
4
Mahasiswamemahamimasalahpembelajarankonsepdanprinsip
Penelitiandalammasalahpembelajarankonsepdanprinsip
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
5
Mahasiswamemahamipenelitianpadapemecahanmasalah
Penelitianpendidikanmatematikapadapemecahanmasalah
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
6
Mahasiswamemahamimasalahperbedaanindividudalampembelajaranmatematika
Penelitianpendidikanmatematikapadaperbedaanindividu
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
7
Mahasiswamemahamimasalahpenelitianpadaranahafektif
Penelitianpadaranahafektifpadapendidikanmatematika
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
8
Mahasiswamenguasaimateripertemuanminggupertamasampaimingguke 7

UTS

UTS
TI, TK, dan UTS
9
Mahasiswamemahamimasalahpenelitianpadakurikulumdanpembelajaran(pendekatan, strategi, ataumetode) matematika
Penelitian-penelitianpadapembelajaranmatematika
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, dan UAS
10
Mahasiswamemahamimasalahpenelitianpadamasalahpendidikan guru/dosen LPTK matematika
Penelitian-penelitianpadapembelajaranmatematika
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, dan UAS
11
Mahasiswamemahamimasalahpenelitianpadaprestasibelajarmatematikaatauunjukkerjasiswa
masalahpenelitianpadapendidikan guru
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, dan UAS
12
Mahasiswamemahamimasalah yang berkaitandenganasesmenpembelajaranmatematika
Masalah-masalah yang berkaitandenganprestasiatauunukkerjasiswa
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, UTS, dan UAS
13
Mahasiswadapatmenyempurnakantopikmasalah yang akanditelitidanstrategipenyelesaiannya
Masalahasesmendalampembelajaranmatematika
Presentasidandiskusi
TJ, PD, TK, dan UAS
14
Mahasiswadapatmenyempurnakantopikmasalah yang akanditelitidanstrategipenyelesaiannya
Masalah-masalahdalambidangpendidikanmatematika yang diperolehdaripengamatan di lapangan (kelas/ sekolah/ lembaga)
Seminar dandiskusi
TI, PD, TJ,  dan UAS
15
Mahasiswadapatmenyempurnakantopikmasalah yang akanditelitidanstrategipenyelesaiannya
Masalah-masalahdalambidangpendidikanmatematika yang diperolehdaripengamatan di lapangan (kelas/ sekolah/ lembaga)
Seminar dandiskusi
TI, PD, TJ,  dan UAS
16
Mahasiswadapatmenyempurnakantopikmasalah yang akanditelitidanstrategipenyelesaiannya
Masalah-masalahdalambidangpendidikanmatematika yang diperolehdaripengamatan di lapangan (kelas/ sekolah/ lembaga)
Seminar dandiskusi
TI, PD, TJ,  dan UAS