Sabtu, 19 Oktober 2013

Refleksi ke-3 (11 Oktober 2013)

Bahasa Analog adalah Bahasa Filsafat Mengapa filsafat susah dipahami setiap orang? Filsafat itu dimensi, filsafat itu mengkomunikasikan dimensi yang ada. Adakalanya orang hidup merasa nyaman pada dimensi tertentu saja. Misalnya dimensi formal, dimensi material, dimensi normatif, atau spiritual. Filsafat itu mengkomunikasikan antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain dengan menggunakakn bahasa analog. Contoh bahasa analog: nama saya “Zaenal Arifin”. Bahasa analog itu bahasa metafisik. Dalam contoh tersebut mempunyai arti bahwa dibalik nama itu terkandung makna, kenapa diberi nama Zaenal Arifin. Mungkin karena orang tuanya ingin menginginkan dia (anaknya) menjadi pemimpin yang bijaksana yang mempunyai banyak perhiasan. Kata Zaenal Arifin berasal dari bahasa arab. Zaenal berasal dari kata zain yang berarti perhiasan, sedangkan kata arifin bermakna bijaksana. Itulah contoh bahasa analog yang digunakan dalam mempelajari filsafat. Itulah mengapa filsafat sulit dipahami banyak orang, karena menggunakan bahasa analog. Adalagi contoh bahasa analog yang ditulis oleh pak Prof. Marsigit dalam postingnya elegy menggapai dasar gunung es sebagai berikut: Pelaut: Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua? Orang tua berambut putih datang: Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu. Pelaut: Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja. Orang tua berambut putih: Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu. Pelaut: Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es? Orang tua berambut putih: Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es. Contoh diatas juga memakai bahasa analog. Maksud pelaut disana bukan orang yang sedang berlayar dilaut, namun maksudnya adalah orang yang sedang mencari ilmu. Dan orang tua yang berambut putih itu bukan kakek-kakek, melainkan adalah ilmu/logos. Disana diceritakan bahwa orang yang sedang mencari ilmu sedang bimbang/kebingungan, bagaimana caranya dia mendapatkan ilmu. Dari kebingungan itulah dia berpikir dan datanglah ilmu dari kebingungan itu. Ilmu itu memberikan cara bahwa untuk mempelajari ilmu harus belajar dari dasar-dasarnya dulu sebelum ia mempelajari lebih dalam. Kalau kita ingin belajar matematika, jangan langsung belajar tentang bangun ruang, himpunan, pecahan, atau induksi matematika tapi belajar dulu tentang operasi bilangan dulu; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang dijelaskan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar